Rabu, 19 Oktober 2011

Sejarah Penulisan Al-Quran (kitabah, rasm, ziyadah,hazf,hamzah)






oleh : Salman Sarip Lubis, Mahasiswa UIN SUSKA.


PENDAHULUAN
Pada zaman sekarang ini yang katanya zaman modern atau zaman yang sudah maju, sehingga hal-hal yang berbau klasik atau lama sepertinya sudah jarang diperhatikan. Bahkan terkesan sepertinya harus dihilangkan dan dilupakan. Karena katanya sudah tidak sesuai dengan zamannya lagi. Begitu juga dengan kitab suci kita yaitu Al-qur’an karim yang oleh banyak pihak mulai dan sudah diganggu ke-autentikannya dari segi manapun, termasuk juga dari segi tulisannya dan perbedaan antara tulisan yang satu dengan tulisan yang lain. Dan hal ini merupakan hal yang sangat mengganggu dan meresahkan di kalangan umat Islam.
Dalam banyak penelitan mereka, para orientalis menyebarkan berbagai syubhat batil seputar Al-Quran. Seorang orientalis bernama Noeldeke dalam bukunya, Tarikh Al-Quran, menolak keabsahan huruf-huruf pembuka dalam banyak surat Al-Quran dengan klaim bahwa itu hanyalah simbol-simbol dalam beberapa teks mushaf yang ada pada kaum muslimin generasi awal dulu, seperti yang ada pada teks mushhaf Utsmani. Ia berkata bahwa huruf mim adalah simbol untuk mushhaf al-Mughirah, huruf Ha adalah simbol untuk mushhaf Abu Hurairah. Nun untuk mushhaf Utsman. Menurutnya, simbol-simbol itu secara tidak sengaja dibiarkan pada mushhaf-mushhaf tersebut sehngga akhirnya terus melekat pada mushhaf Al-Quran dan menjadi bagian dari Al-Quran hingga kini. Berkaitan dengan sumber penulisan Al-Quran, kaum orientalis menuduh bahwa isi Al-Quran berasal dari ajaran Nasrani, seperti tuduhan Brockelmann. Sedangkan Goldziher menuduhnya berasal dari ajaran Yahudi.

KITABAH,RASM DAN MUSHAF AL-QUR’AN
1.      Tulis Menulis dikalangan Bangsa Arab
Al-qur’an bukan kata yang mengandung sarkasme, karena jauh sebelum nabi Muhammad dilahirkan bangsa arab hampir tidak mengenal tulisan, jika dilihat dari satu sisi mereka anti huruf, walaupun mereka orang arab dikenal dikenal orang yang pandai bersyair. Namun tulisan mereka tidak adilubung, yang menyamai tulisan besar dunia seperti hieroglip (mesir), devanagari (india), kominomoji (jepang), azleka (indian), fonogram/huruf paku (asyiria), romawi, cina,babilonia. Tradisi dalam menyampaikan pesan dan menalar syair serta menghafal silsilah, akan menyusutkan hasrat orang arab dalam mengangkat tulisan mereka ketingkat posisi jenjang kelas yang lebih tinggi.
Disaat Muhammad mendapat wahyu pertama yaitu surat al-alaq ayat satu sampai lima, bagi bangsa arab untuk hal tulis menulis adalah hal yang aneh. Dari ayat yang pertamakali muncul menganjurkan untuk selalu membaca dan menulis. Dengan demikian ketika ayat itu turun mereka seperti kebakaran jenggot. Dalam beberapa tahun pesan dari wahyu pertama belum mendapat sentuhan, hanya ada beberapa tokoh dikala itu yang pandai menulis. Yang mana mereka belajar kaligrafi dari bisyir dan harb ( dua nenek moyang yang membawa kaligrafi) diantara tokoh tersebut yang belajar adalah umar bin khattab, utsman bin affan, abu ubaydah,muawiyah bin abi sufyan. Awal kebangkitan membaca dan menulis muncul pada saat setelah terjadinya hijrah kemadinah.[1]
Pembicaran asal-usul alqur’an tidak pernah terlepas dari pembicaraan tentang kitab suci yang telah ada. Begitu juga berbicara tentang kitab suci tidak akan pernah terlepas dari tulisan. Suatu kitab suci tidak akan berarti apa-apa jika suatu masyarakatnya tidak pandai menulis. Kitab suci suatu konsep modern yang dikenal umat manusia setelah berkenalan dengan tulisan.
Dibawah ini table timelines sejarah penulisan kitab suci[2]
TANGGAL
PERISTIWA
3200 SM
Hiroglif digunakan bangsa mesir
2200 SM
Nabi Ibrahin hidup dan munculnya tradisi yahudi
2000 SM
Logograf digunakan bangsa cina dan bangsa jepang
1900 SM
Orang-orang sumeria menciptakan seni tulisan segi (cuniefrom)yang bakalan menjadi cikal bakal Alfabet
1500 SM
Orang-orang feonik menemukan sistim alphabet, pada saat ini ditemukan 22 huruf
800 SM
Deutoronomy, buku kelima perjanjian lama ditemukan
280 SM
Septagint diterjemahkan di alexandria
200 SM
Beberapa buku pertama apokrifa mulai ditulis
1 M
Yesus lahir
40 M
Pesan-pesan dan kisah yesus disebarkan
70-150 M
Injil yang 4 muncul (mark,matius,Lukas,dan john)
610 M
Muhammad menerima wahyu
651 M
Utsman menyempurnakan proyek kodifikasi al-qur’an

Abjad[3]

Huruf
Nama
Arti
Alihaksara
Huruf yang sama di abjad
Ibrani
Arab
Yunani
Latin
Aleph
ʾāleph
sapi
ʾ
א
Α, α
A, a
Beth
Bēth
rumah
B
ב
Β, β
B, b
Gimel
Gīmel
unta
G
ג
Γ, γ
C, c / G, g
Daleth
Dāleth
pintu
D
ד
Δ, δ
D, d
He
jendela
H
ה
Ε, ε
E, e
Waw
Wāw
kait
W
ו
(Ϝ, ϝ) / Υ, υ
F, f / U, u
Zayin
Zayin
senjata
Z
ז
Ζ, ζ
Z, z
Heth
ēth
dinding
ח
Η, η
H, h
Teth
ēth
roda
ט
Θ, θ
Yodh
Yōdh
lengan
Y
י
Ι, ι
I, i
Kaph
Kaph
telapak tangan
K
כ
Κ, κ
K, k
Lamedh
lāmedh
angkus
L
ל
Λ, λ
L, l
Mem
Mēm
air
M
מ
Μ, μ
M, m
Nun
Nun
ular
N
נ
Ν, ν
N, n
Samekh
sāmekh
ikan
S
ס
Ξ, ξ
Ayin
ʿayin
mata
ʿ
ע
Ο, ο
O, o
Pe
mulut
P
פ
Π, π
P, p
Sade
ādē
berburu
צ
(Ϻ, ϻ)
Qoph
Qōph
monyet
Q
ק
(Ϙ, ϙ)
Q, q
Res
Rēš
kepala
R
ר
Ρ, ρ
R, r
Sin
Šin
gigi
Š
ש
Σ, σ
S, s
Taw
Tāw
tanda
T
ת
Τ, τ
T, t


Dibawah ini contoh tulisan Hieroglif
Hieroglif Mesir
"kepala sapi" →
Proto-Semitik
’alp →
Fenisia
alef →
Yunani Kuno
alfa →
Latin Modern
A




Hieroglif Mesir
"ular" →
Latin Modern
N


Hieroglif Mesir


Bagian dari Papirus Ani menunjukkan hieroglif kursif.

2.      Sejarah Penulisan Al-qur’an
Sejarah penulisan Al-qur’an telah dimulai sejak Rasulullah masih hidup. Menuliskan Al-qur’an dalam riwayat disebutkan bahwa nabi selalu menyuruh sahabatnya menulis Al-qur’an segera setelah ayat yang diturunkan. Dalam sebuah riwayat diceritakan bahwa mereka yang terlibat dalam penulisan wahyu tersebut berjumlah 40 orang.[4] Para penulis wahyu waktu itu sangat berkonsentrasi dalam penulisan wahyu, hal ini dikarenakan sabda Rasulullah:
عن ابي سعيد الخدرى رضى الله عنه قال رسول الله ص م : لا تكتبوا عنى غير القران فليمحه
Artinya: “ Janganlah kamu menulis dariku selain Al-qur’an, barang siapa menulis selain Al-qur’an maka hapuskanlah.”
Dengan demikian melaksanakan apa yang telah diperintahkan oleh Rasulullah. Mereka menuliskan al-qur’an pada benda-benda yang sederhana seperti: pelepah kurma, batu putih yang tipis, tulang belulang, kulit binatang dan lain-lain. Setelah Rasulullah wafat Al-qur’an kembali ditulis oleh abu bakar hal ini atas desakan Umar bin khattab, karena umar khawatir dengan banyaknya sahabat nabi yang gugur dalam perang yamamah melawan musailamah Al-kazzab. Diceritakan para penghafal Al-qur’an yang meninggal diperkirakan 70 orang.
Pada zaman abu bakar lah dimulainya pengumpulan Al-qur’an dalam satu mushaf, pada awalnya Abu bakar enggan untuk melaksanakan tugas itu, karena Rasulullah tidak pernah melakukan pengumpulan Al-qur’an dalam satu mushaf. Dengan desakan terus menerus maka terbukalah hati abu bakar untuk merealisasikan tugas itu. Dengan demikian abu bakar menyuruh zaid bin tsabit untuk melakukan tugas tersebut dengan merujuk kepada ayat-ayat yang telah ditulis pada benda-benda serta merujuk kepada hafalan sahabat. Setelah selesai tugas tersebut maka mereka menamakannya tulisan tersebut dengan “Mushaf”.
Waktu terus berlalu kepemimpinan islam pun telah berganti dan penyebaran islam pun semakin luas. Pada zaman usman untuk ketiga kalinya Al-qur’an ditulis, penyebabnya tidaklain tidak bukan adalah adanya perbedaan cara bacaan mereka disaat berperang melawan orang kafir dikawasan Armenia dan Azerbaijan (uni soviet). Ketika mereka berperang tersebut prajurit yang ikut berasal dari negar yang berbeda seperti dari irak dan syiria. Ditempat mereka ada sahabat yang mengajarkan bacaan tersebut sesuai dengan yang diajarkan nabi. Akan tetapi mereka para tabi’in yang berbeda bacaan tersebut mereka saling bertikai membenarkan masing-masing argumennya. Akhirnya pertikaian itu sampai kepada khalifah usman bin Affan.
Akhirnya usman kembali memprakarsai penulisan kembali Al-qur’an dengan tujuan kaum muslimin mempunyai rujukan tulisan yang benar. Dengan artian usman ingin mempersatukan mushaf yang ada atau disebut dengan “tauhidul masahif.” Usman kembali membentuk panitia empat yang bertugas menuliskan Al-qur’an, mereka adalah:
1.      Abdullah bin ‘Amr bin As
2.      Abdullah bin zubair
3.      Abdurrahman bin haris bin hisyam
4.      Zaid bin tsabit
Dan untuk diketahui bahwasanya Al-qur’an dicetak pertamakali pada tahun 1694 M pada abad kedua belas dari hijriah dikota hamburg (jerman).
3.      Pengertian Rasm Al-Qur’an Menurut etimologi dan terminology
Rasm (الرسم) artinya (الا ثر) atau bekas, peninggalan. Kata lain yang sama artinya adalah : (الخط) (الكتابة) (الزبر) (السطر) (الرقم) dan (الرشم)   semuanya berarti tulisan. Dengan demikian bahwa seorang penulis yang telah menggoreskan penanya, maka ia akan meninggalkan bekas pada tulisan itu.
4.      Aturan dalam Rasm al-qur’an
Didalam rasm Alqur’an terdapat aturan yang telah dibuat oleh para ulama diantaranya:
1.      Membuang Huruf (حذف الحرف)
Macam-macam hazf, hazf terbagi tiga:
a.       Hazf isyarah yaitu membuang huruf dengan tujuan mengisyaratkan adanya bacaan lain. Contoh (اسرى تفدوهم) lafaz (اسرى) ditulis demikian karena bacaan lain terdapat perbedaan yaitu bacaannya imam hamzah yang membaca (اسرى) begitu juga dengan lafaz (تفدوهم) ditulis demikian karena ada bacaan lain (تفدوهم) yaitu bacaan ibnu katsir
b.      Hazf iktisar yaitu membuang huruf denga tujuan meringkas tulisan seperti membuang alif dari setiap jama’ muzakkar salim atau semisalnya jika setelah alif bukan hamzah atau tasdid. Contoh (العلمين) (الحفظون)
c.       Hazf iqtisar yaitu membuang huruf pada kalimat tertentu saja, contoh membuang alif pada lafaz (المعيد)  yang terletak pada surat al-anfal ayat 42, sedangkan (الميعاد) selain ditempat tersebut ditulis dengan alif.

Didalam rasm usmani huruf yang dibuang ada 5 huruf:
1.      Membuang alif
a.       Jama’ muzakkar salim ada 3 keadaan
1.      Membuang alif
Syarat membuang alif diantaranya lafaz tidak berulang dua kali didalam al-qur’an. Kemudian setelah alif tidak terdapat tasdid atau hamzah:
Contoh: (صدقين)(خلدون)(الورثون)(الفسقين)(بالكفرين) dan lain-lain
Menurut abudaud membuang alif juga berlaku pada lafaz-lafaz yang tidak berulang dalam Al-qur’an, seperti : (الفتحين)(الغفرين)(سفلين)(كلحون)(وردون) dan lain-lain
2.      Menetapkan Alif
Jika setelah alif ada tasdid seperti: (الضالين)(الصافون)(الضالون)
3.      Menetapkan Alif lebih masyhur
Jika setelah alif ada hamzah maka menetapkan alif lebih masyhur, seperti: (خائفين)(القائمين)(قائلون)
b.      Jama’ Muannas salim
Alif pada muannas salim mempunyai dua permasalahan;
a.       Yang mempunyai satu alif seperti: (بينت)(ظلمت)(واولت)
b.      Yang mempunyai dua alif seperti: (حفظت)(قنتت)(وجلتكم)

c.       Jama’ muannas salim yang mengikuti wazan فعالين dan فعالون  dan mufradnya ikut wazan فعا ل contohnya : (قومين)(طوفون)(سمعون)

d.      Jama’ Manqush
Setiap isim yang pada akhirnya Ya lazimah dan sebelumnya kasrah menurut Abu daud alif dihapuskan selain pada surat ashaffat: الغاوين dan  الغاوون
2.      Tambahan Huruf (زيادةالحرف)
Pada bagian ini ziadah huruf terbagi menjadi 3 permasalahan:
A.    Ziadah Alif
Pada bagian ini akan menghadapi 4 masalah pokok:
1.      Ziadah alif sesuadh waw jama’ contoh: (اعدلوا)(فاسعوا)(ولاتفسدوا)
2.      Ziadah alif sesudah waw jama’ mufrad contoh: (لن تدعوا)(ماتتلوا)(اشكوابثى)
3.      Ziadah alif yang tidak terletak sesudah waw jama’ atau waw mufrad contoh (مائة مائتين)(لااذبحنة)(ولاوضعوا)
4.      Ziadah alif sesudah lafaz لؤلا menjadi لؤلؤا
B.     Ziadah Ya
Pembahasan ini memiliki beberapa  karakter:
1.      Sebelum ya ziadah, hamzah yang berharakat kasrah dan tidak didahului Alif contoh (من نباءى)(وملائه)(افائين)
2.      Sebelum ya ziadah hamzah yang berharakat kasrah dan didahului alif contoh: (من تل قاءى)(وايتاءى ذىالقربى)(اناءى اليل)
C.     Ziadah Waw
Para ulama perawi rasm usamani empat kalimat berikut ada ziadah waw: (اولي)(الوا)(اولت)(اولاء)
3.      Mengenai Hamzah (الهمزة)
Arti hamzah menurut bahasa adalah dorongan atau tekanan, sebagian ulam mengatakan hamzah termasuk huruf tanda baca ada yang mengatakan hanya sebagai huruf. Tegasnya bahwa rasm hamzah pada mushaf-mushaf usmani adalah sebagai berikut:
1.      Terkadang tertulis dalam bentuk alif, misalnya: (اول) apabila diberi harakat dan tanda kepala ‘ain kecil(ء) menjadi(أول)
2.      Terkadang tertulis dengan bentuk waw, misalnya: (يومنون) apabila diberi tanda baca dan tanda kepala ‘ain kecil menjadi (يؤمنون)
Adapun kaidah hamzah yang terletak diawal kalimat:
a.       Hamzah berbaris fathah misalnya (أنعمت) sebelum diberi tanda baca tertulis (انعمت)
b.      Hamzah berbaris kasrah misalnya (،اياك)sebelum diberi tanda baca tertulis (اياك)
c.       Hamzah berbaris dhammah misalnya (أنزل)sebelum diberi tanda baca tertulis (انزل)
d.      Hamzah wasal misalny (الحمد)
4.      Penggantian Huruf (ابدل الحرف)
1.      Penulisan alif yang berasal dari ya
Yang dimaksud disini adalah alif yang menjadi lam kalimah seperti طغى dan فتى dari mana mengetahui alif berasal dari isim tasniya, misalnya فتى menjadi فتيان
Contoh lain adalah:ياسفى  asalnyaيااسفى
 يويلتيasalnyaياويلتى
2.      Alif yang berasal dari ya musyabbah yaitu alif ta’nis
Hal ini dapat diketahui dari wazan berikut:
فعالى Seperti كسالى
فعلى Seperti مرضى
فعلى seperti قربى
3.      Penulisan alif yang tidak diketahui asalnya, alif ditulis dengan ya misalnya: (متى) (حتى)
5.      Penyambungan Huruf (وصل الحرف)
Kata-kata yang bersambung ditulis seluruhnya ada 17 kata baik disepakati maupun diperselisihkan. Seperti;
اينما didalam alqur’an   فاينما تولّوافثم وجه الله    
بئسما didalam alqur’an        بئسما اشتروا به انفسهم
كيلا didalam alqur’an        لكيلا يعلم من بعد علم شئا
عمّ didalam alqur’anعمّ يتساءلون       
نعمّا didalam alqur’an        انّ الله نعمّا يعظكم به


6.      Pemisahan Huruf (فصل الحرف)
Yang dimaksud dengan pemisahan adalah penulisan suatu kata dipisahkan dengan kata yang lain. Hal itu terdapat 17 macam kata:
(ان لا) didalam alqur’an        ان لا اقول على الله الاّ الحق
(من ما) didalam alqur’anهل لكم من ما ملكت أيمانكم
(انّ ما) didalam alqur’anانّ ما عند الله هو خير لكم
(عن من)didalam alqur’anويصرفه عن من يشاء
(عن ما) didalam alqur’anفلما عتوا عن ما نهوا عنه
(انِِِّ ما) didalam alqur’anوانّ ما نرينك بعض الذى نعدهم
Dan lainnya.

5.      Penetapan Rasm Al-qur’an
Melihat dari spesifikasi cara penulisan aklimat-kalimat arab rasm alqur’an dibagi menjadi tiga macam:
1.      Rasm Qiyasi (الرسم القياسى)
2.      Rasm A’rudi (الرسم العروضي)
3.      Rasm Usman  (الرسم العثمان)
Berikut penjelasan dari masing-masing ungkapan diatas:
1.      Rasm Qiyasi ialah menuliskan kalimat sesuai dengan memperhatikan waktu memulai dan berhenti pada kalimat tersebut. Kecuali haruf hijaiyah seperti huruf (ق) tidak ditulis (قاف)   tapi dengan (ق) saja.
Contoh dari Rasm Qiyasi adalah lafaz (انا) ditulis dengan (انا) walaupun jika dilanjutkan alifnya hilang seperti (انا نذير) seperti hamzah washal seperti (جاء الحق) hamzah pada lafaz (الحق) tetap harus ditulis, walaupun tidak diucapkan pada waktu ia berada ditengah kalimat sebab jika dimulai dari awal kalimat maka diucapkan (الحق جاء) .
Rasm ‘Arudi ialah cara menuliskan kalimat-kalimat arab disesuaikan dengan wazan sya’ir-sya’ir arab. Hal itu dilakukan untuk mengetahui “bahr” (nama macam sya’ir) dari sya’ir tersebut contohnya sepert: وليل كموج البحر ار خي سدو له  sepotong sya’ir Imri’il qais tersebut jika ditulis akan berbentuk: وليلن كموج البح ر ار خي سدو لهو sesuai dengan فعو لن مفا عيلن فعولن مفا عيلن  sebagai timbangan  sya’ir yang mempunyai “ bahar tawil.”
Rasm usmani ialah cara penulisan Al-qur’an yang telah disetujui oleh sahabat usman bin affan pada waktu penulisan mushaf penulisan mushaf. Rasm usmani menjadi salah satu cabang ilmu pengetahuan yang bernama Ilmu Rasm Usmani. Ilmu ini didefinisikan sebagai ilmu untuk mengetahui segi-segi perbedaan antara Rasm usmani dan untuk mengetahui segi-segi perbedaan antara rasm usmani dan kaidah-kaidah rasm istilahi (rasm yang biasa selalu memperhatikan kecocokan antara tulisan dan ucapan) sebagai berikut contoh antara rasm usmani dengan rasm istilahi.
Dalam rasm usmani lafaz (لايستوون) ditulis (لايستون)
Lafaz (الصلاة) ditulis (الصلوة)
Lafaz (الزكاة) ditulis (الزكوة)
Lafaz (الحياة) ditulis (الحيوة)
Dengan demikian perlu kita amati adalah bahwa rasm atau tulisan Al-qur’an yang telah dipergunakan pada masa sahabat usman mempunyai beberapa nilai diantaranya:
1.      Rasm usmani memberikan kontribusi yang sangat besar karena rasm usmani merupakan sejarah dan kebudayaan arab masa lalu
2.      Dengan adanya rasm usmani maka erat sekali persamaan kita saat ini dengan para sahabat yang hidup pada kurun abad pertama hijriyah
3.      Salah satu syarat bacaan yang diterima qiraat qur’an dari berbagai versi bacaan adalah jika sesuai dengan rasm usmani
4.      Terjaganya kemurnian Alqur’an

6.      Pandangan Ulama tentang Rasm Al-qur’an
Para ulama berbeda pendapat mengenai status rasm usmani atau rasm Alqur’an, diantara pendapat tersebut sebagai berikut:
a.       Sebagian ulama berbeda pendapat bahwa rasm uAl-qur’an itu bersifat tauqifi, sehingga wajib oleh siapa saja ketika menulis Al-quran. Al-Qattan dalam bukunya berpendapat bahwa tidak ada suatu riwayat dari Nabi yang dijadikan alasan untuk menjadikan Rasm Utsmani sebagai tauqifi. Rasm Utsmani merupakan kreatif panitia yang telah di bentuk Utsman sendiri atas persetujuannya. Jika di antara panitia itu ada berbeda pendapat dalam menulis mushaf, maka hendaknya di tulis dengan lisan Quraisy karena dengan lisan itu Al-Qur’an turun.[5]
b.      Sebagian besar Ulama berpendapat bahwa Rasm Utsmani bukan tauqifi, tetapi merupakan kesepakatan cara penulisan (ishtilahi) yang di setujui Utsman dan diterima ummat, sehingga wajib di ikuti dan ditaati siapapun ketika menulis Al-Qur`an.[6] Banyak Ulama terkemuka menyatakan perlunya konsistensi menggunakan Rasm Utsmani. Asyhab berkata ketika ditanya tentang penulisan Al-qur`an, apkah perlu menulisnya seperti yang di pakai banyak orang sekarang, Malik menjawab, “Aku tidak berpendapat demikian. Seseorang hendaklah menulisnya sesuai dengan tulisan pertama.”[7] Imam Ahmad bin Hanbal pernah berkata,
تحرم مخالفة خط مصحف عثمان فى واو او الف او ياء اوغيرذالك
Artinya:“Haram hukumnya menyalahi khot Utsmani dalam soal wawu, alif, ya` atau huruf lainnya.”
c.       Sebagian dari mereka berpendapat bahwa Rasm Utsmani bukanlah tauqifi. Tidak ada halangan untuk menyalahinya tatkala suatu generasi sepakat menggunakan cara untuk menuliskan Al-qur’an ayng berlainan dengan Rasm Utsmani.[8] Berkaitan dengan ketiga pendapat diatas, Al-Qattan memilih pendapat yang kedua karena lebih memungkinkan untuk memelihara Al-qur’an dari perubahan dan penggantian hurufnya. Seandainya setiap masa diperbolehkan menulis Al-qur’an sesuai dengan trend tulisan pada masanya, perubahan tulisan Al-qur’an terbuka lebar pada setiap masa. Padahal, setiap kurun waktu memiliki trend tulisan yang berbeda-beda. Al-qattan menegaskan bahwa perbedaan Khot pada mushaf-mushaf yang ada merupakan hal lain. Yang pertama berkaitan dengan huruf , sedangkan yang kedua berkaitan dengan cara penulisan huruf. Untuk memperkuat pendapatnya, Al-qattan mengutip ucapan Al-Baihaqi di dalam kitab Syu’b Al-Iman,”Siapa saja yang hendak menulis mushaf hendaknya memperhatikan cara mereka yang pertama kali menulisnya. Janganlah berbeda dengannya tidak boleh mengubah sedikitpun apa-apa yang telah mereka tulis karena mereka lebih banyak pengetahuannya, ucapan dan kebenarannya lebih dipercaya serta memegang amanah daripada kita. Jangan ada diantara kita yang merasa dapat menyamai mereka.

7.      Problematika Rasm Al-qur’an
Ada beberapa riwayat menerangkan bahwa usman tidak mensita mushaf-mushaf yang ditulis oleh sahabat-sahabat besar, seperti mushaf ali bin abi thalib, mushaf Abdullah bin mas’ud, dan mushaf ubay bin ka’ab, walaupun mushaf-mushaf itu sedikit berbeda dari mushaf usmani. Ada riwayat mengatakan Abdullah bin mas’ud tidak memasukkan mu’awwidzatain. Dengan demikian jumlah surat al-qur’an pada mushaf ibnu mas’ud berjumlah 112 surat bukan 114 surat.
Mengenai riwayat yang menukilkan dari ibnu mas’ud ini ulama memberikan ulasan. Ada yang mengatakan ibnu mas’ud berkata demikian, lalu menyalahkan ibnu mas’ud. An-nawawy dalam syarah Al-muhadzab berkata: “ segala umat islam telah sepakat menetapkan bahwa mu’awwidzatain dan al-fatihah, bagian dari al-qur’an dan yang mengingkarinya kufur. Jadi nukilan yang dinukilkan dari ibnu mas’ud tidaklah benar. Diantar kritik terhadap rasm usmani/rasm al-qur’an adalah sebagai berikut:
Kaum syi’ah menganggap bahwa mushaf utsmani ada kekurangan dua surat. Pertama mereka mengatakan surat Al-khal’u yang kedua mereka katakana surat al-hafdu. Mereka berkata bahwasanya ubay bin ka’ab berqunut dengan kedua surat itu. Hal itu pula menurut kata mereka yang dibenarkan oleh ibnu abbas dan abu musa al- asy’ary. Dengan demikian mushaf ubay 116 surat, atau 115 surat karena beliau menjadikan surat alfil dan surat al-quraisy jadi satu.
Surat yang mereka dakwakan itu adalah[9]
اللهم انا نستعينك ونستغفرك ونثنى عليك ولا نكفرك ونخلع من يفجرك
Artinya: “ wahai Tuhan kami, bahwasanya kami memohon pertolongan kepadaMu dan memohon ampunan kepada Mu dan kami menyanjung akan diriMu dan tiada kami mengingkarMu dan kami tinggalkan orang yang berlaku curang kepadaMu.
اللهم اياك نعبد ولك نصلي ونسجد واليك نسعى ونحفد نرجو رحمتك ونخشى عذابك ان عذابك بالكفار ملحق
Artinya: “ Wahai Tuhan kami, kami menyembahMu dank arena engkau kami bersembahyang dan sujud dan kepada engakau kami berjalan bergegas. Kami mengharap rahmat engkau kami takut azabMu. Bahwasanya azabMu menimpa orang-orang kafir.
8.      Mengenal Mushaf Al-qur’an
Rasm qur’an yaitu penulisan mushaf Al-qur’an yang dilakukan dengan cara khusus, baik dalam penulisan lafal-lafalnya maupun bentuk-bentuk huruf yang digunakannya. Penulisan Al-qur’an pada masa Nabi SAW dilakukan oleh para sahabat-sahabatnya. Nabi juga membentuk tim khusus untuk sekretaris (juru tulis) Al-qur’an guna mencatat setiap kali turun wahyu. Diantaranya zaid binTsabit, Pada waktu itu mereka menulis Al-qur’an berdasarkan petunjuk Nabi SAW. Baik dalam penulisannya maupun dalam urutannya. Pada masa khalifah Abu Bakar sedikitnya ada 70 hafidz Al-qur’an yang mati syahid dalam suatu peperangan meluruskan orang-orang yang murtad dari agama Islam. Kemudian ketika itu Umar bin Khattab mengajukan usul kepada khalifah untuk mengumpulkan catatan-catatan Al-qur’an menjadi satu. Dengan berbagai pertimbangan Abu Bakar menerima usulan Umar, sehingga dibentuklah tim penuls Al-qur’an yang diketuai oleh Zaid bin Tsabit. Tim menulis ayat-ayat Al-qur’an dengan berpegangan dengan ayat-ayat Al-qur’an yang disimpan oleh Nabi SAW. dan ayat-ayat yang dihapal oleh para sahabat yang masih hidup. Sesudah Abu Bakar wafat, tulisan tersebut diserahkan kepada Umar bin Khattab lalu diserahkan lagi kepada khafsoh.





DAFTAR PUSTAKA
Syadali, Ahmad dan Rofii, Ahmad. 2000. Ulumul Qur’an II. Bandung: Pustaka setia
Al-A’zami,M.M. 2005. The History Of Qur’anic Text. Terj. Sohirin Solihin dkk. Jakarta: Gema Insani Press
As-Shalih, Subhi. 1988. Mabahis Fi Ulum Al-Quran. Beirut: Darul Ilmi
Sya’roni, mazmur.1999. pedoman Umum Pentashihan Mushaf Al-qur’an dengan Rasm Usmani. Jakarta: Deperteman Agama
Ash-shiddiq,Hasbi.1954-1977. Sejarah Pengantar Ilmu Al-qur’an dan Tafsir. Jakarta: Bulan bintang
Al-qhattan, Manna’.1993.Pembahasan Ilmu Al-qur’an.Jakarta: Rineka Cipta
Khalil, Manna’ al-Qattan. Studi Ilmu-Ilmu Al-qur’an. Bogor: litera Antar Nusa






[1] M. yudhi haryono, Krits Terhadap Al-qur’an. H 105
[2] M.Dawam Rahardjo, Metodologi Studi Al-qur’an. H 5
[3] Lihat google
[4] Mazmul sya’roni, pedoman umum penulisan dan pentashihan Mushaf Al-qur’an dengan Rasm Usmani. H 3
[5] Manna alkhattan Khalil. Studi Ilmu Ilmu Al-Qur’an. H 215
[6] Ibid H 216
[7] Jalaluddin as-suyuti, Al-Itqoan Fi Ulum Al-Qur’an. H167
[8] Rosihon Anwar, Ulumul Qur’an. H 55
[9] Hasbi Ashiddiq, Sejarah Pengantar Ilmu Al-qur’an dan Tafsir. H 105

0 komentar:

Poskan Komentar